Friday, September 2, 2016

Sayap Yang Kerdil


Sayap Yang Kerdil Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.
Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.
Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.
Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, ?Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melomp ... baca selengkapnya di Sayap Yang Kerdil Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

It is the story experienced by a family of birds. The mother hatch a few eggs into a small birds were beautiful and healthy. The mother was very happy and treat them all with great affection. Day by day, month turned into months. The little birds this current can move swiftly. They began studying flapping wings, looking for food and then pecked. From some of these young birds appeared a little bird that is different from other siblings. He seemed quiet and not agile brothers. When the brothers learned to fly, he chose silence in the nest rather than tired and fall, when the brothers chasing foraging, he chose silence and await the mercy of his brother. Thus it happened so. When the mother started to become old and no longer able to struggle to feed their children, the children of these birds began to feel sad. Often he saw from the bottom of his brothers to fly high in the sky. When the brother-saudarnya nimbly move from branch to branch one another in a tall tree, he should be satisfied just by being in a low branch. He also felt very sad. In his grief, he met an old mother and said,? Mom, I feel so sad, why I can not fly as high as the other brethren, why can not akau

0 komentar:

Post a Comment